Powered By Blogger

Sabtu, 18 September 2010

AGAMA KRISTEN

PENCIPTAAN MAUSIA


                   
 

1.      Identitas manusia 

a.       Menurut kitab kejadian

Kitab Kejadian yang memuat kisah Penciptaan menekankan bagaimana Allah menempatkan manusia sebagai ciptaanNya yang khusus. Manusia disebut sebagai imago Dei, gambar Allah yang mewakili Allah di dunia), dengan kata lain keberadaan manusia menunjuk bahwa Allah itu ada. Kenyataan diatas menunjuk pula bahwa manusia menjadi begitu sangat penting dan berarti dalam wilayah iman Kristen. 

b.      Menurut Agustinus

Manusia adalah jiwa berakal budi yang mempunyai dan memakai badan. Karena itu, jiwa merupakan hakekat manusia yang sesungguhnya. Jiwa bersifat rohani, hadir pada dirinya sendiri dalam keintiman dan keinsafan akan dirinya sendiri. Bagi Agustinus, badan bukan kenyataan manusia yang sebenarnya. Berbeda dengan jiwa yang abadi, badan akan mengalami kematian dan kemusnahan. Kodrat kefanaan badan ini selain karena asal usulnya juga disebabkan oleh dosa dan hukuman-hukumannya. Dalam pribadi manusia, jiwa dan badan menjadi saling  mempengaruhi. Menurut Agustinus karena asal-usulnya dan karena kodratnya sebagai wadah kebenaran-kebenaran abadi, maka jiwa juga bersifat abadi.

c.       Menurut Thomas Aquinas

Ia mengatakan bahwa bukan hanya roh atau jiwa yang menjadi citra Allah, tetapi keseluruhan pribadi manusia, jiwa dan badannya. Jiwa tidak ekslusif terhadap badan, tetapi dalam kesatuan dengan badan ia berekspansi menjangkau semua yang ada. Ia adalah cermin yang memantulkan dari semua yang ada.

d.      Menurut Konsili Vatikan II

Dalam konstitusi Gaudium et spes, para bapa konsili mengatakan bahwa kesatuan jiwa dan raga dalam pribadi manusia merupakan kodrat manusia. Badan tidak boleh diremehkan, melainkan harus pandang baik dan dihargai, sebab badan adalah ciptaan Allah, akan dibangkitkan/dimuliakan pada hari terakhir. Dengan tanpa merendahkan badan, konsili juga menyadari keunggulan jiwa yang bersifat rohani dan kekal abadi, sebab didalamnya Allah berdiam dan memberi pencerahan kepada manusia agar dapat menentukan keputusan-keputusannya berdasarkan kebenaran-kebenaran yang mendalam.

2.      Pertigaan dalam diri manusia yang memperlihatkan citra Allah dalam diri manusia:

Agustinus mengatakan bahwa perbedaan partisipasi dalam Allah Tritunggal itu terletak dalam berbagai “pertigaan” dalam mahkluk-makhluk itu. Yang dimaksud oleh Agustinus denga pertigaan adalah tiga unsure atau aspek yang bersama-sama menentukan kesatuan makhluk yang bersangkutan. Manusia sebagai materi atau badan memiliki status yang sama dengan  makhluk-makhluk yang lain. Akan tetapi, manusia tidak hanya materi. Ia memiliki jiwa. Dalam jiwa manusia terdapat berbagai pertigaan yang menunjukkan citra Allah dalam dirinya. Ada tiga pertigaan yang utama. Pertigaan pertama adalah terdiri dari mens (akal budi), notitia (pengertian, pengenalan) dan amor (cinta). Pertigaan yang kedua terdiri dari memoria sui (ingatan akan diri sendiri), intelgensia (pengertian, pemahaman) dan voluntas (kehendak). Dan pertigaan yang ketiga adalah memora Dei (ingatan akan Allah), intellegentia dan amor. Ketiga pertigaan itu bertumpu pada mens (daya pikir, akal budi) yang merupakan mata rohani jiwa.

3.      konsekuensi manusia diciptakan sebagai imago dei

Menurut Agustinus, kehendak bebas memainkan peran penting dalam jiwa manusia. Ratio berada pada posisi netral, kehendaklah yang mengarahkan jiwa. Kehendaklah yang  memberi keterarahan bagi jiwa untuk memilih antara ke atas, yakni kepada Allah pencipta atau ke bawah, yaitu ke dunia yang bukan kediaman yang sesungguhnya. Ia harus menerima segala konsekuensi yang harus ditanggungnya. Disinilah letak dimensi moral dari jiwa. Keterarahan  ke atas menjadikannya bermoral baik (bijaksana), sedangkan keterarahan ke bawah akan menjadikannya bermoral buruk. Keterarahan menentukan moralitas manusia. Jika keterarahan itu jahat, dorongan hati dan hasrat pun jahat. Jika keterarahan itu baik, semua keterarahan hati dan hasrat pun baik. Keterarahan jahat timbul dari keangkuhan untuk menikmati ketinggian dan kemuliaan palsu. Manusia menjauhkan diri dari Allah,  asalnya sebenarnya, dan menjadikan dirinya sendiri sebagai asalnya sendiri.

4.      Dampak inkarnasi Yesus kepada martabat manusia:

keajaiban Inkarnasi dan misteri ini mempunyai dampak sangat konkrit atas perkembangan spiritualnya seperti diungkapkan santa klara:
Pertama, Klara mengakui martabat setiap pribadi manusia karena Kristus – sang Firman yang menjadi manusia – hidup di tengah-tengah mereka. Setiap orang adalah ikon Kristus yang menyatakan beberapa segi dari pribadi Kristus. Hal inilah yang memimpinnya untuk menghormati setiap orang.
Kedua, melalui misteri Inkarnasi Klara memandang panggilannya sebagai panggilan untuk melahirkan Kristus dalam kehidupannya. Dia menulis kepada Agnes dari Praha mengenai hal ini dalam suratnya yang ketiga. Dalam suratnya ini Klara memusatkan perhatian secara istimewa pada peranan Maria dalam melahirkan Kristus dan mengajar, bahwa kita pun harus melakukan hal yang sama dalam kehidupan kita:
“Seperti perawan segala perawan yang mulia membawa Dia secara badaniah, demikian pun dengan mengikuti jejak-jejak-Nya, khususnya kerendahan dan kemiskinan-Nya, anda pasti dapat selalu membawa Dia secara rohaniah dalam badan anda yang murni dan perawan. Maka anda menampung Dia yang menampung anda dan segala sesuatu. Dan anda memiliki sesuatu yang lebih akan anda miliki, dari pada milik sementara dunia ini yang lain
Ini adalah buah Inkarnasi; yaitu bahwa kita harus secara serius berupaya untuk melahirkan Kristus dalam kehidupan kita masing-masing. Sikap penuh perhatian terhadap Sabda Allah yang ditunjukkan oleh Klara merupakan sebuah contoh yang mengagumkan. Orang kudus ini tidak hanya memeditasikan Sabda (Firman), namun membentuk tindak-tanduknya  sedemikian rupa sehingga dia dapat menjadi seorang saksi sang Sabda di dunia.

Ketiga, pengakuannya terhadap rahmat Inkarnasi memampukan Klara untuk melihat Kristus yang hadir dan berkarya di mana-mana dalam dunia. Dia merasakan kedekatan Kristus dan akan selalu siap untuk bertemu dengan-Nya. Dalam iman, Klara tahu bahwa Kristus selalu siap untuk melimpahkan cinta kasih-Nya yang penuh perhatian kepada kita semua. 

5.      Dasar-dasar filosofis dan theologis HAM:

konsili vatikan II mengatakan bahwa hak-hak dasar manusia itu bersumber dari martabatnya sebagai citra Allah yang telah dilukiskan oleh kitab kejadian. Kitab kejadian melukiskan bahwa sejak awal manusia memiliki keunggulan dari semua makhluk ciptaan lainnya. Keunggulan itu terutama dikarenakan karena ia diciptakan menurut citra Allah sendiri. (Kej 1:27).
Santo Thomas mengatakan bahwa jiwa manusia memiliki kekuatan yang dahsyat. Ia sanggup mengenal dan mencapai semua ekspresi dari yang ada (being). Dan demikian ia dapat menguasainya.

6.      Fokus perhatian atau oerientasi gereja katolik dewasa ini dalam hal HAM:

paus  Yohanes Paulus II sangat berjasa besar dalam mengembangkan pemikiran dan refleksi tentang HAM di kalangan gereja Katolik dewasa ini.  Dalam ensikliknya Redemtoris Misio, Paus Yohanes Paulus II mempertegas gagasan Paus Paulus VI dalam ensiklik evangelisasi nuntiandi, bahwa pemakluman martabat manusia sebagai citra Allah dan pembelaan terhadap hak asasi manusia adalah bagian integral dari evangelisasi (pewartaan injil). Gereja harus mewartakan kabar baik Tuhan, bahwa setiap orang diciptakan menurut citra Allah, karenanya memiliki martabat luhur dan kebebasan, dan melahirkan hak-hak kodrati yang tidak dimiliki oleh mahkluk yang lain. Paus juga mengatakan bahwa orang-orang zaman ini tidak membutuhkan pengajaran, tetapi kesaksian hidup gereja yang terlibat dalam perjuangan bagi penegakan HAM bagi yang miskin dan tak berdaya.
Paus mengatakan bahwa gereja harus mengedepankan penghormatan terhadap HAM. Dalam ensikliknya Cantesimus Annus, Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa akar totalirisme modern ditemukan dalam penyangkalan terhadap martabat transenden personal manusia yang sebagai citra kelihatan Allah yang tak kelihatan. Paus juga mengatakan bahwa gereja katolik harus memberikan dukungan bagi demokrasi dan menolak penguasaan Negara oleh elit-elit ideologis atau elit-elit yang berkepentingan. Gereja harus memberikan perhatian khusus kepada HAM pekerja; kelompok-kelompok minoritas, dan orang-orang miskin. Paus menyebut secara eksplisit bahwa kaum miskin itu adalah kaum imigran di asia, rakyat pribumi, suku-suku asli, kaum wanita dan anak-anak yang diperlakukan kurang manusiawi. Termasuk juga mereka yang menderita karena diskriminasi budaya, warna kulit, ras, status ekonomi, atau karena cara berfikir yang berbeda. Termasuk juga yang perlu diperhatikan khusus adalah para pengungsi, para peminta suaka, para transmigran dan para pekerja luar negeri.

7.      Hubungan antara gereja dan Negara dalam Sejarah:

Menurut Calvin peranan Paus dan gereja terlalu dominan di tengah-tengah masyarakat di Abad Pertengahan. Gereja telah mengambil hak-hak pemerintah duniawi sehingga terseret hal-hal duniawi seperti politik, peperangan dan pengurusan kekayaan. Karena itu Gereja Katolik Roma perlu direformasi. Jika gereja mau memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah, Gereja juga harus mau memberikan kepada Kaisar apa yang menjadi Kaisar. Pemerintah adalah hamba Allah (Roma 13:4) dan bukan hamba Gereja seperti yang dikatakan Paus pada Abad Pertengahan. Reformator menolak pandangan Reformator radikal yang menyatakan orang Kristen tidak memerlukan Negara yang dianggap sebagai bagian dunia lama. Padahal dunia lama belum berlalu dan tetap diperlukan pemerintah untuk menjaga kesejahteraan masyarakat. Menurut Calvin selama orang Kristen masih berada di dunia maka orang Kristen harus takluk kepada undang-undang yang berlaku di dunia ini yang telah ditetapkan oleh pemerintah
Dalam hidup manusia ada dua pemerintahan yaitu pemerintahan bersifat rohani yang mengajar hati nurani supaya saleh dan mengabdi kepada Allah. Pemerintahan yang bersifat politik adalah Pemerintahan yang mengajarkan kepada masyarakat kewajiban-kewajibannya sebagai manusia dan sebagai warga, yang harus dipenuhi masyarakat.
Walaupun Calvin menganggap Negara perlu selama gereja masih berada di dunia, itu tidak berarti bahwa ia menyerahkan segala-galanya kepada Pemerintah. Dengan tegas Calvin menetapkan batas antara gereja dan negara. Kedua jenis pemerintahan (gereja dan negara) adalah berasal dari Allah. Berdasarkan Ajaran Praedetinasi maka Allah menetapkan pemerintah dan menetapkan gereja. Gereja bertugas membina manusia supaya mendapatkan kehidupan yang kekal. Pemerintahan sipil membina kehidupan bersama dalam dunia ini. Gereja memerintah dengan kuasa rohani (kasih), Negara memerintah dengan kuasa dan paksaan bahkan kalau perlu dengan kekerasan pedang. Pemerintah boleh menjatuhkan hukuman mati di pengadilan dan juga membela Negara dalam perang. Pekerjaan Gereja menyangkut kesejahteraan jiwa manusia, keyakinan batin dan imannya. Negara mengurus hal-hal lahiriah yang menjamin kehidupan fisik. Jadi pemerintahan Negara perlu karena dosa merajalela dalam kehidupan masyarakat.
Selain itu Pemerintah harus menjaga ajaran Kristen yang benar dan kedudukan gereja dalam masyarakat. Pemerintah harus menindak orang-orang yang mengganggu gereja dan yang melanggar hukum Allah. Pemerintah harus menjaga moral dan agama karena negara dialaskan pada penghormatan kepada Allah dan kesusilaan. Negara harus menopang dan mengasuh gereja. Yang menjadi masalah dalam hubungan gereja dan negara pada abad pertengahan adalah gereja yang cenderung mendikte pemerintah tentang bagaimana harus mengasuh gereja. Negara juga mencampuri urusan intern gereja. Calvin mengatasi masalah ini dengan menolak pandangan Paus pada saat itu yang menyatakan bahwa pemerintah adalah bawahan gereja. Padahal menurut Calvin bahwa pemerintah menerima langsung tugasnya dari Allah dan bukan dari gereja. Calvin juga menolak pendapat yang menyatakan bahwa negara boleh mengatur gereja.
Calvin menyatakan bahwa tugas gereja dan negara adalah berbeda. Kewajiban pemerintah adalah membuat undang-undang terbatas pada bidang kehidupan lahiriah (ius circa sacra) dan gereja membuat peraturan-peraturan kerohanian (ius in sacris). Tugas pemerintah adalah menciptakan kondisi-kondisi yang baik supaya gereja dapat melakukan tugasnya. Menurut Calvin pemerintah Kristen menyatakan ketaatannya kepada Allah terutama dalam kesetiaannya melaksanakan tugas yang diberikan Allah kepadanya. Pemerintah tidak perlu mengkristenkan masyarakat dan Gereja menjadikan masyarakat Kristen menjadi warga negara yang baik.
Undang-undang Negara menurut Calvin tidak perlu langsung diambil dari Alkitab. Malahan Calvin juga menyangkal kemungkinan untuk menerapkan Hukum Taurat Perjanjian Lama dalam Negara (termasuk Negara Kristen). Memang Calvin mencita-citakan suatu Negara teokrasi yang artinya pemerintah harus takluk kepada Allah saja yang telah menetapkannya, taat kepada kehendak Allah. Sebagai ganti kata teokrasi diusulkan kata bibliokrasi. Bibliokrasi adalah pemerintahan yang mendasarkan diri pada Alkitab. Tetapi undang-undang Negara tidak langsung diambil dari Alkitab. Alkitab bukanlah rancangan undang-undang yang siap pakai.

8.      Sikap politik:

  1. Nabi Amos
Dalam bidang politik, Amos memberikan dua kritikan, yakni pengadilan yang lalim dan keserakahan para pemimpin. Perihal pengadilan, Amos menyoroti perilaku para pemimpin yang bertindak sebagai hakim. Mereka telah memperkosa keadilan. Tidak ada lagi hokum dan lembaga yang menjaga keadilan. Hokum dapat diatur, diubah dan diperjualbelikan menurut kepentingan para penguasa.

  1. Nabi Mikha
Mikha mengecam perilaku para pejabat Negara. Menurut Mikha hari- hari hidup mereka dipenuhi dengan kejahatan. Pikiran mereka hanya memperbanyak harta secara melimpah ruah. Mereka adalah pelaku kejahatan secara terencana. Setiap rumah, tanah dan harta benda yang sudah dirancang diambil begitu saja. Para petani yang semula hidup berkecukupan di tanah warisan tersingkir. Mereka kehilangan rumah, tanah dan banyak harta benda lain. Mereka menjadi pengemis jalanan dan dipaksa bekerja sebagai budak. Mikha juga mengecam para tentara Yehuda. Mereka yang seharusnya melindungi rakyat dari musuh malah menjadikan rakyat sebagai musuh.

  1. Nabi Yesaya
Yesaya menyampaikan kecaman keras terhadap para penguasa Yerusalem. Tuhan akan  mendatangkan hari penghukuman atas mereka. Ketika tiba waktunya, mereka akan dijadikan tawanan, meringkuk dalam tahanan, lalu dibunuh bersama tawanan lain. Yerusalem akan runtuh akibat kelaliman para pejabatnya.

9.      Keterlibatan Yesus dalam dunia politik:

Yesus Kristus adalah pendiri kristianitas, kepala dari tubuh gereja, Tuhan, penyelamat dan guru bagi para muridnya. Maka wajar bila dalam konteks politik kita juga bertanya adakah Yesus mewariskan prinsip politik tertentu kepada para muridnya. Para ahli berbeda pandangan mengenai keterlibatan Yesus dalam dunia politik. Ada sejumlah ahli yang mengatakan bahwa Yesus terlibat dan banyak ahli mengatakan Yesus tidak terlibat dalam dunia politik.

10.  Orientasi Politik Yesus:

Dalam menjalankan misinya Yesus memang tampil sebagai tokoh pembebas, khususnya bagi orang-orang miskin dan tertindas. Mulai dari kisah sekitar kelahiran sampai dengan pelayanannya di muka umum memperlihatkan nada keterpihakan pada golongan ini. Sejak awal hidupnya ada nuansa politis. Ketika tampil di muka umum, ia memang menyampaikan firman dan tindakan-tindakan pembebasan. Kerajaan Allah yang dibawanya adalah milik-milik orang miskin dan tertindas.  Bagi golongan ini ia adalah seorang pahlawan pembebas. Tidak heran dari kebanyakan pengikut berasal dari orang-orang kecil. Harus dikatakan bahwa Yesus tidak terlibat dalam politik kekuasaan. Namun, tidak bisa dikatakan juga dikatakan bebas dari dunia politik. Ia adalah bagian dari kehidupan politik dan mengambil peran tertentu di dalamnya.

11.  Keunggulan dan keunikan Yesus Kristur sebagai jalan keselamatan bagi diri saya dan bagi seluruh umat sepanjang masa

Yesus Kristus adalah satu-satunya Pribadi yang telah ditentukan Allah sebagai media bagi manusia untuk mengetahui bagaimana serta kearah mana jalan kehidupan manusia diarahkan.
Berbagai nubuatan telah dinyatakan sejak jaman para nabi masih hidup serta bekerja sebagai pelaku-pelaku penyampai isi Firman dan Taurat Allah kepada bangsa Israel, bahwa Yesus Kristus memang telah ditentukan dan dinyatakan Allah sejak mulanya, sebagai Juruselamat manusia, jalan keselamatan menuju kehidupan yang kekal.
Ketika Ia telah hadir di dunia, Ia juga menerima tanda kasih Allah, bahwa Allah Bapa berkenan kepadaNya dan Allah tidak menentukan adanya nama maupun pribadi lain, yang keatasnya, kuasa hadirat Allah ada besertanya. “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.”  (Matius 3 : 17)
Allah tidak memberikan pilihan lain kepada manusia apabila ingin mendapatkan
tempat didalam Kerajaan Sorga selain harus percaya dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, serta melakukan segenap ketentuan-ketentuan yang telah dinyatakanNya.
Allah telah menentukan Yesus Kristus sebagai Juruselamat manusia, perantara dalam mendamaikan dosa-dosa manusia dihadapan Allah, dan oleh karena beratnya derita  serta kematianNya di kayu salib, kita telah memperoleh jaminan tentang harga dan nilai sebuah kepastian, bahwa pilihan untuk beriman kepada Kristus, adalah jalan keselamatan menuju keabadian di Rumah Bapa di Sorga.
Hanya kepada Yesus Kristus sajalah, manusia akan memperoleh seluruh jawaban
tentang kebenaran yang dibutuhkan dan dipikirkan manusia.  Yesus Kristus adalah jalan untuk memperoleh dan melihat kebenaran hingga akhirnya kita bisa sampai pada tujuan akhir hidup kita, yaitu kehidupanyang kekal, terbebas dari hukuman, terbebas dari alam maut. Kitaberoleh keselamatan oleh karenaNya.
Dan kita semua akan menerima karunia terindah,yaitu penebusan yang telah dilakukan Yesus sehingga kita tidak akanjatuh dalam maut namun beroleh kehidupan kekal bersama Allah Bapa. Itu semua bisa terjadi, apabila kita mengaku, percaya dan yakin bahwa Yesus
Kristus adalah Tuhan serta Juruselamat manusia, tiket emas kita untuk mendapatkan tempat dalam Kerajaan Sorga.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
(Yohanes 3 : 16)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar